Minggu, 28 Desember 2014

Cerpen Islami - Ayah, Izinkan Aku Mengaji.

Hai aku bawain cerpen Islami lagi nih. Kali ini cerpennya buatan temenku lho ( @fandrianip ) :D 
Yukkk baca! Ceritanya menarik banget lho! Hihi


Happy Reading!

Ayah, Izinkan Aku Mengaji

            Dalam hujan deras disertai gemuruh petir dan dinginnya malam tak dapat menghentikan langkah Alef yang terburu-buru sembari melindungi kitab suci Al-Quran menggunakan tangannya.

***

           "Dari mana, kamu?" Tanya seorang pria jangkung dan bertato. "Anu, Yah .. Sata ..." jawab Alef terbata-bata.

"Halah jangan banyak rewel. Pasti kamu baru pulang dari rumah orang sok pinter agama itu, kan? Jawab! "

"Maaf, Yah. Tadi Alef belajar ngaji sama Pak Ustadz Jami. "

"Ayah sudah bilang, kan? Ngapain ngaji? Nggak ada untungnya, nggak ngehasilin duit buat makan! "

Ayah. Begitulah Alef memanggil pria tersebut. Ia memang ayah kandung Alef, namun ketika sang bunda meninggal dunia, sikap ayah kandung Alef pun menyerupai ayah tiri karena perlakuannya kepada Alef sangatlah kejam. Alef sering kali menahan rasa sakit pada bagian tubuhnya yang dilukai oleh ayahnya menggunakan alat-alat seperti guting, pulpen, sebatang lidi, bahkan puntung rokok berapi sekalipun.

Hal itu terjadi hanya karena Alef melakukan kegiatan mulia, yaitu mengaji.

Bagi ayahnya, mengaji hanya dapat mengganggu tidurnya dan tidak menghasilkan apa-apa, terutama uang.

Ayah Alef adalah seorang pengangguran yang hanya mengandalkan perjudian untuk mendapatkan uang sebagai kebutuhan sehari-hari, maka dari itu ia marah besar jika Alef mengaji.

***

Terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari mulut Alef dengan merdu sekali. Namun tak lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju kamar Alef, Alef segera mengakhiri bacaan Al-Qur'an dan berpura-pura sedang tertidur pulas.
            
             "Lef, Alef!" Suara lantang penuh amarah terdengar dari mulut Ayahya yang membuat Alef ketakutan, namun Alef mencoba untuk tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan dari ayahnya.
           
            Digebraknya pintu kamar Alef,.
            
            Namun ayah Aleh hanya mendekatkan langkahnya menuju ranjang, tempat di mana Alef sedang berpura-pura tertidur. Hati Alef begitu resah, keringat dingin bercucuran membasahi pipinya. Ia takut jika ayahnya mengetahui bahwa sedari tadi Alef sedang mengaji, dan ia pun takut jika ayahnya menyiksa Alef seperti biasanya.

            Aleh anak tunggal, sehingga ia tidak dapat berlindung pada siapapun kecuali Allah. Maka dari itu hati Alef tetap membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an agar mendapat perlindungan dari Allah.

            Ternyata ayahnya hanya melihat wajah Alef tanpa menggubrisnya sama sekali. Setelah keheningan pun, akhirnya terdengar suara kicauan engsel pintu yang ditutup diiringi derap langkah kaki ayahnya.

            SREEEKK

            Ketika itu pintu pun sudah tertutup kembalii dan derap langkah pun mulai terdengar menjauh.

            Alef menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, sambil mengucap syukur kepada Allah. Namun tak lama kemudian, suara derap langkah tersebut mendekat kembali dan Alef pun segera mengambil posisi seperti tadi.

            BRAAAAKK!

            Suatu pintu digebrak dan Alef pun diguyur oleh air yang baru saja dibawa oleh ayahnya. "Bangun kamu! Jangan bisanya cuma tidur! Ini sudah pagi, cepat bikinin   ayah kopi! "bentaknya.

            "Iya ayah. Tapi Alef mau bersihin badan dulu. "

            "Nggak bisa! Ayah mau cari duit buat makan. Buruan! "

            Dengan penuh kesabaran, Alef hanya dapat menjawab. "Baik, ayah."

***

            Siang itu pun ketika ayahnya keluar rumah. Alef pergi menjumpai Ustadz Jami. Ia menceritakan keluhan-keluhan akibat perbuatan ayah kandungnya selama ini. "Kamu benar, Nak. Orang tua memang gerbang menuju pintu surga sampai kamu harus taat pada mereka. Namu tak ada salahnya jika kamu menjelaskan apa tujuanmu mengaji. "Jelas Ustadz Jami.

            "Tapi, Pak Ustadz. Ayah saya selalu mengatakan bahwa saya tidak menghasilkan apa-apa jika saya mengaji. Saya bingun, Pak Ustadz. Jika saya melawan orang tua saya, maka haramlah pintu surga bagi saya. Tetapi jika saya menuruti perintah ayah untuk tidak mengaji, maka lebih haram pintu surga bagi saya. "

            "Ingat, Nak. Uang bukanlah segalanya, tetapi memang segalanya butuh uang. "Ujar Pak Ustadz. "Nah, saya punya sedikit solusi untuk kamu." Lanjut Pak Ustadz Jami.

            "Apa itu, Pak?"

            "Alhamdulillah saya punya satu undangan dari kerabat saya untuk mengikutsertakan anak saya sebagai peserta lomba membaca Qur'an, tetapi sayangnya anak saya sedang berada di luar kota. Dari undangan ini mubadzir, alangkah baiknya jika undangan ini saya berikan pada kamu. "Jelas Pak Ustadz disertai dengan senyuman.

            "Insya Allah ini jalan menuju akhir permasalahanmu selama ini. Tapi ingat, jangan hanya mengincar hadiahnya saja, tetapi audio juga berkahnya. "Lanjut Pak Ustadz.

            "Ini benar buat saya, Pak? Bagaimana nanti jika anak bapak dengki kepada saya karena undangannya menjadi milik saya? "Tanya Alef yang masih enggan.

            "Tentu saja ini benar untuk kamu, lef. Insya Allah anak saya tidak dengki sama sekali karena pada saat ditelepon pun ia mengikhlaskan undangannya pada siapa saja. Sudah, lef, kamu jangan sungkan, ikuti saja perlombaan ini. Tunjukkan pada ayahmu bahwa apa yang ia katakan selama ini tidak benar, karena Allah menciptakan sesuatu tidaklah sia-sia. "

            "Alhamdulillah terimakasih, Ya Allah. Atas kesempatan yang diberikan ini. Terimakasih, Pak Ustadz terimakasih! "Ucap Alef penuh kebahagiaan.

            "Afwan, lef. Lebih baik sekarang kamu latih terus kemampuanmu dalam mengaji, tunjukkan pada ayahmu bahwa mengaji tidaklah sia-sia. "

            "Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, lagi pula ini sudah sore. Maaf pak saya sudah mengganggu bapak, sekali lagi terimakasih, Pak. Assalamu'alaikum. "

            "Waalaikum'salam warahmatullahi wabarakaatuh. Hati-hati, lef. "Ucap Ustadz Jami seraya Alef pergi.

***

            Tepat dihari yang ditentukan, lomba membaca Al-Qur'an pun akan segera dimulai. Sebelum menuju tempat acara, Alef melaksanakan sholat subuh dan mengaji terlebih dahulu untuk meminta ridha Allah SWT agar diberi kemudahan serta kelancaran pada saat lomba. Namun tetap, Alef mengaji dengan suara pelan, agar ayahnya tidak mengetahui bahwa Alef sedang mengaji.

            Setelah semua selesai, termasuk mempersiapkan kopi dan makanan untuk ayahnya, Alef mempersiapkan diri dan bergegas menuju tempat acara diselenggarakan, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Alef.

            Namun pagi itu Ustadz Jami berada di depan gang. Ternyata ia ingin mendampingi Alef dalam mengikuti lomba baca Al-Qur'an tersebut. Hati Alef sangat bahagia karena masih ada orang yang menyayanginya, tetapi Alef sangat sedih karena ayahnya sendiri tak pernah seperti Ustadz Jami yang mengantarkannya lomba.

            Jangankan mengantar, hanya mendengar Alef mengaji pun ayahnya tidak mau, bahkan sampai menyiksa Alef. Namun meskipun Alef telah banyak menerima kekerasan, Aleh tetap mencintai ayahnya sendiri, ayah kandungnya.

***

            Setibanya di tempat tujuan, Alef mengambil nomor urut peserta dan ia mendapatkan nomor urut ke-30 dari 30 peserta. Baginya, menjadi yang terakhir akan lebih indah. Beberapa peserta pun telah tampil, tetapi Alef tetap fokus pada Al-Qur'an nya ia tetap khusyu agar dapat menampilkan yang terbaik.

***

            Menit demi menit pun berlalu. Seiring berjalannya waktu, maka semakin cepat pula Alef akan menampilkan dirinya membacakan kita suci Al-Qur'an dihadapan dewan juri dan penonton lainnya.

            Ketika namanya disebut, perasaan Alef tak karuan. Namun ia mencoba untuk tetap tenang. Dari kejauhan, Alef melihat Ustadz Jami menyemangatinya walau hanya menggunakan tangan dan mimik wajah yang sumringah.

            Dengan membaca Basmallah, Alef pun mulai membacakan Al-Qur'an Surat Yusuf.

            Sungguh indah ayat-ayat suci Al-Quran yang ia lantunkan, bahkan banyak beberapa penonton yang menetesakn air mata, termasuk Ustadz Jami. Setelah semua ayat telah selesai dilantunkan, Alef langsung menuju Ustadz Jami, lalu memeluknya.

            "Subhanallah, indah sekali, lef. Sekarang tinggal kita berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan hasil yang terbaik. "

            "Aamiin .... Ya Allahu Ya Rabbi .." Jawab Alef sumringah.

***

            Sesampainya di rumah Alef menemui sang ayah dengan wajah penuh kebahagiaan. Namu wajah bahagia itu pudar seketika ayahnya memarahi Alef. "Pasti kamu habis dari rumah orang itu lagi, kan?"

            "Bukan, Yah. Tadi Alef pergi lomba, Yah. Alef juara 1. "

            "Alasan saja, kamu! Ayah capek nyari duit, kamu malah pergi! Rasain ini! "Teriak Ayah 
Alef begitu keras sembari melaju Alef menggunakan sebatang lidi sampai tubuh Alef merah.

            "Sakit, Yah. Sakit! "Lirih Alef kesakitan.

            Ayahnya terus memecutnya. Namun percepatan itu berhenti tiba-tiba membuat Alef lega dan heran. Ternyata ayah Alef sesak nafas hingga tubuhnya terjatuh. Alef pun segera menghampiri ayahnya terebut. "Ayah, asma ayah kambuh lagi?" Tanya Alef panik.

            Namun ayahnya tidak bisa menjawab karena dadanya yang sesak dan Alef pun segera mencari obat. Akan tetapi persediaan obat kambuh ayahnya tersebut sudah habis. Alef kebingugan dan Alef pun ingat bahwa dirinya masih memiliki uang yang cukup untuk membeli obat.

            Setelah memindahkan ayahnya ke ranjang. Alef langsung berpamitan untuk membeli obat ke apotek.

***

            "Ayah harus pakai obat ini, ya, Ayah." Kata Alef sambil memakaikan obat pada ayahnya. Ayah Alef hanya bisa terbaring lemas di ranjang. Sudah 3 hari ini ayah Alef tak kunjung sembuh. Alef khawatir pada kondisi ayahnya, ia pun memberanikan diri untuk membacakan surat Asy-Syifaa dihadapan ayahnya.

            "Ayah, Alef hanya ingin ayah sembuh." Ucap Alef seraya meminta izin.

            Ketika Alef membacakan surat Asy-Syifaa pun ayah Alef tidak marah seperti biasanya karena tubuhnya yang belum membaik. Ayah Alef hanya meneteskan air mata dan Alef terus membacakan surat Asy-Syifaa sampai ia tertidur disamping ayahnya.


***

            Keajaibab pun mendukung Alef. Doa-doa yang ia panjatkan pada Allah SWT kini terkabul. Pagi itu ayah Alef kembali sehat, namun ada satu hal yang berbeda. Yakni sikapnya yang Alef takuti selama ini, kini sudah berubah menjadi seperti dahulu kala ibu Alef masih ada .
       
           Ayahnya menghampiri Alef. Ia memeluk Alef begitu erat. "Lef, maafin ayah. Selama ini ayah udah jahat sama kamu. Perlakuan ayah sangat memalukan. Ayah sadar, ayah bukan ayah yang baik seperti orang lain. Sekarang ayah juga sadar kalau mengaji itu bukan hal yang nggak ada artinya. Maafin ayah, lef. "Ucap sang ayah menangis.

            Dalam pelukan sang ayah, Alef tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya meneteskan air mata dan dalam hatinya ia hanya mengucap syukur pada Allah SWT karena ayahnya sudah kembali sadar atas kekhilafannya.
***
TAMAT

1 komentar: